Review Buku Masih Belajar Karya Iman Usman: Menggapai Hidup Bermakna di Usia Muda
Pernah
merasa hidup berjalan terlalu lambat dibandingkan orang lain? Saat melihat
teman sudah punya karier bagus, mengembangkan banyak cabang bisnis, melanjutkan
pendidikan, atau meraih berbagai pencapaian lainnya. Kita justru masih sibuk
bertanya-tanya tentang masa depan sendiri.
Padahal,
disadari atau tidak di balik pencapaian tersebut biasanya ada kegagalan,
keraguan, penolakan, dan proses panjang yang tidak terlihat.
Rasanya
hal itulah yang coba diperlihatkan Iman Usman melalui buku Masih Belajar:
Menggapai Hidup Bermakna di Usia Muda. Diterbitkan pada 2019 oleh Gramedia
Pustaka Utama, buku ini merupakan kisah perjalanan hidup Iman sekaligus
refleksi mengenai pendidikan, kegagalan, mimpi, karier, dan bagaimana seseorang
menemukan makna dari proses yang dijalaninya.
Buku
ini memiliki sekitar 240 halaman dan dikategorikan sebagai buku nonfiksi,
biografi, serta pengembangan diri yang rasanya tak salah jika direkomendasikan
untuk dibaca minimal sekali seumur hidup.
Siapa Itu Iman Usman?
Sebelum
membahas isi bukunya, tentu menarik untuk mengenal siapa sebenarnya Iman Usman
bukan? Yuk kita kenalan.
Iman
Usman adalah pengusaha, pembicara publik, pegiat sosial, sekaligus salah satu pendiri
Ruangguru bersama Adamas Belva Syah Devara. Iman merupakan alumni Universitas
Indonesia dan dikenal aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan
pendidikan dan pemberdayaan anak muda.
Iman
juga pernah menjadi Mahasiswa Berprestasi Tingkat Nasional dan aktif dalam
gerakan kepemudaan. Pengalamannya tersebut kemudian menjadi bagian penting dari
perjalanan yang ia ceritakan dalam Masih Belajar. Iman sendiri masih berusia 27
tahun ketika menulis Masih Belajar dan pada usia tersebut, ia sudah mendirikan
perusahaan teknologi Pendidikan.
Namun,
alih-alih menempatkan dirinya sebagai seseorang yang sudah sukses, ia justru
memilih judul Masih Belajar. Menurut saya, usai membaca keseluruhan isi buku,
judul tersebut dipilih Iman karena menjadi semacam pernyataan bahwa pencapaian
bukanlah akhir dari perjalanan, ia masih Iman Usman yang Masih Belajar terus
menerus.
Sinopsis Buku Masih Belajar
Masih
Belajar menceritakan lika liku perjalanan hidup Iman Usman sejak masa kecil
hingga menapaki berbagai pencapaian yang diraihnya sebagai anak muda. Cerita
dalam buku ini tidak hanya berisi keberhasilan.
Iman
juga menceritakan pengalamannya menghadapi kegagalan, penolakan, rasa takut,
hingga bagaimana ia mengelola berbagai tantangan dalam perjalanan pendidikan
dan kariernya. Salah satu bagian yang menarik menurut saya adalah kisah ketika
ia pernah berjualan berbagai pernak-pernik bertema Harry Potter di sekolah.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa jiwa kewirausahaan dan rasa ingin tahu Iman sudah tumbuh sejak usianya masih belia. Cerita kemudian berkembang pada perjalanan pendidikannya, aktivitas sosial, hingga proses mendirikan Ruangguru. Namun, buku ini tidak hanya berusaha menjelaskan apa yang Iman capai, melainkan juga bagaimana ia sampai di sana.
Review Isi Buku Masih Belajar
Salah
satu hal yang menarik dari Masih Belajar adalah cara Iman mengemas pengalaman
pribadi menjadi pembelajaran.
Buku
ini dibagi ke dalam dua bagian besar. Bagian pertama membahas perspektif atau
cara pandang Iman terhadap kehidupan. Bagian kedua lebih banyak mengisahkan
perjalanan hidupnya melalui konsep “akar”, “batang”, dan “buah”.
Iman
rasanya cukup mahir menceritakan tentang proses karena pesan yang cukup kuat
dalam buku ini adalah bahwa seseorang tidak seharusnya hanya melihat hasil
akhir. Prestasi yang terlihat hari ini merupakan buah dari proses panjang.
Ada
kegagalan yang harus diterima, keputusan yang harus dibuat, dan berbagai
pengalaman yang membentuk seseorang tersebut. Pemikiran Iman tersebut terasa
relevan bagi anak muda yang sering merasa tertinggal ketika melihat pencapaian
orang lain di media sosial. Iman juga banyak berbicara mengenai kegagalan dalam
perjalanan hidupnya termasuk penolakan yang tidak sesuai dengan harapannya di
awal.
Namun,
pengalaman tersebut tidak selalu ditempatkan sebagai sesuatu yang harus
disesali. Justru dari kegagalan, menurut Iman seseorang dapat belajar mengenali
dirinya, memahami keinginannya, dan menentukan langkah berikutnya.
Salah satu gagasan yang saya soroti dalam buku ini adalah bahwa “kegagalan pada satu kesempatan tidak berarti seseorang akan gagal selamanya. Hal menarik lainnya adalah Iman tidak menjadikan kisah hidupnya sebagai formula kesuksesan yang harus diikuti semua orang karena menurutnya anak muda tidak harus menjalani jalan yang serupa satu sama lain.”
Perjalanan
seseorang memiliki titik awal, kondisi, kesempatan, dan waktunya masing-masing.
Pesan tersebut membuat buku ini hidup dan terasa sangat manusiawi (tidak
menggurui berlebihan). Kesuksesan Iman bukanlah standar yang harus dicapai
pembaca pada usia tertentu, tetapi dapat menjadi inspirasi bahwa setiap orang
memiliki kesempatan untuk berkembang.
Terakhir,
selain berbicara tentang pendidikan dan karier, Masih Belajar juga membawa
gagasan tentang kehidupan yang bermakna. Ada nilai lain yang juga penting,
yaitu seberapa jauh seseorang dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Gagasan
ini terasa sejalan dengan perjalanan Iman yang sejak muda aktif dalam kegiatan
sosial dan kemudian ikut membangun Ruangguru sebagai perusahaan yang bergerak
di bidang pendidikan.
Kelebihan Buku Masih Belajar
Kelebihan utama buku ini adalah gaya bahasanya mudah dipahami.
- Narasinya terasa seperti seseorang sedang menceritakan pengalaman secara langsung kepada pembaca, cukup menyenangkan untuk diikuti.
- Kelebihan lainnya adalah pengalaman pribadi Iman membuat buku ini tidak terasa seperti kumpulan teori motivasi semata.
- Ada cerita tentang masa kecil, pendidikan, kegagalan, aktivitas sosial, hingga perjalanan membangun Ruangguru.
- Buku ini juga memiliki banyak refleksi yang dapat direnungkan, cocok untuk pembaca yang sedang berada pada fase menentukan arah pendidikan atau karier.
Kekurangan Buku Masih Belajar
Meski memiliki banyak pesan positif, buku ini tentu tidak terlepas dari kekurangan.
- Bagi pembaca yang sudah sering membaca buku motivasi atau pengembangan diri, beberapa nasihat dalam Masih Belajar mungkin terasa cukup umum.
- Ada beberapa tipsnya mirip dengan gagasan yang sering ditemukan dalam buku self-improvement lainnya.
Dengan kata lain, Masih Belajar mungkin lebih tepat dinikmati sebagai buku perjalanan hidup sekaligus refleksi pengembangan diri, bukan autobiografi yang mengupas setiap detail kehidupan secara mendalam.
Kenapa Harus Membaca Buku Masih Belajar?
Lantas, apakah buku Masih Belajar layak dibaca? Menurut saya, buku ini menarik terutama bagi mereka yang sedang berada dalam fase mencari arah hidup.
Jika kamu sedang
kuliah, baru memasuki dunia kerja, ingin membangun bisnis, sedang mengejar
pendidikan, atau bahkan sedang merasa tertinggal dari teman-teman sebaya, buku
ini dapat memberikan perspektif yang cukup menenangkan.
Salah satu pesan penting yang bisa dibawa pulang adalah bahwa setiap orang mempunyai timeline kehidupannya sendiri. Tidak semua orang harus sukses pada usia 20 tahun dan tidak semua orang harus memiliki karier A baru bisa dikatakan sukses.
Begitupun
tidak semua kegagalan mengartikan bahwa kehidupan sudah berakhir. Justru,
proses mencoba, gagal, belajar, kemudian mencoba kembali merupakan bagian dari
perjalanan dari sukses itu sendiri.
Kisah
Iman menunjukkan bahwa pencapaian besar tidak muncul dalam satu malam. Ada
pendidikan, kegagalan, keberanian mencoba, rasa ingin tahu, kerja keras, dan
kesempatan untuk terus memperbaiki diri dari waktu ke waktu.
Bagi saya, Masih Belajar mengingatkan saya dan (mungkin kita) bahwa hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat sukses. Kita mungkin belum sampai pada tempat yang kita inginkan, tetapi selama masih mau belajar, perjalanan tersebut belum selesai.
Dan mungkin, itulah makna paling sederhana sekaligus
paling kuat dari judul buku ini: kita (siapapun itu) rasanya tidak pernah
benar-benar selesai belajar.








Posting Komentar