Review Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati Karya Brian Khrisna
Ada
kalanya manusia tidak membutuhkan nasihat panjang untuk kembali melihat hidup
dari sisi yang berbeda. Kadang sebagai manusia kita hanya membutuhkan sebuah
cerita yang terasa dekat, familiar, sederhana tetapi diam-diam berhasil
menyentuh bagian paling dalam dari diri sendiri. Hal itulah yang coba
ditawarkan Brian Khrisna melalui novel karyanya yang berjudul Seporsi Mie Ayam
Sebelum Mati.
Sekilas,
judul novel ini terdengar ringan, dan buat saya sendiri cukup mengundang rasa
penasaran. Namun, jangan terkecoh karena dibalik seporsi mie ayam, Brian
mencoba menyampaikan cerita tentang kesepian, luka batin, penerimaan diri,
kesehatan mental, serta pencarian alasan untuk tetap menjalani hidup.
Melalui
ulasan ini, yuk kita bahas isi buku, keunggulan, kekurangan, serta alasan
mengapa buku ini layak untuk Anda baca. Tapi sebelum lanjut, mari berkenalan
dulu dengan penulisnya.
Siapa Brian Khrisna?
Brian
Khrisna merupakan penulis asal Bandung yang lahir pada 17 Januari 1992. Sebelum
dikenal melalui buku-bukunya, Brian lebih dahulu membangun namanya melalui
platform Tumblr sejak sekitar 2010 dengan nama pena Mbeeer. Tulisan-tulisannya
yang berisi sajak, cerita, senandika, hingga humor membuatnya memiliki pembaca
sebelum akhirnya masuk ke dunia penerbitan.
Karya
pertama Brian yang diterbitkan berjudul Merayakan Kehilangan pada 2016. Setelah
itu, Brian melahirkan sejumlah karya lain seperti berjudul The Book of Almost,
This Is Why I Need You, Kudasai, Museum of Broken Heart, Parable, dan 23:59.
Satu
hal yang membuat saya kagum dan langsung tau oh ini tulisan karya Brian adalah
ciri khasnya yang mampu membicarakan persoalan berat menggunakan bahasa yang
ringan dan dekat dengan keseharian.
Sinopsis Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Novel
ini memperkenalkan pembaca kepada Ruslan Abdul Wardhana atau Ale, seorang pria
berusia 37 tahun yang merasa kehidupannya tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Ale
tumbuh dengan pengalaman tidak menyenangkan yang membuatnya memiliki pandangan
buruk terhadap dirinya sendiri. Ia merasa tidak diterima oleh lingkungan,
mengalami berbagai bentuk perundungan, menghadapi persoalan dalam hubungan
sosial, serta merasa tidak memperoleh dukungan yang cukup dari keluarga.
Semua
pengalaman tersebut membuat Ale mengalami kelelahan mental dan kehilangan
harapan terhadap kehidupannya. Pada satu titik, ia mengambil keputusan untuk
mengakhiri hidupnya. Namun sebelum itu, Ale memiliki satu keinginan sederhana
yaitu menikmati seporsi mie ayam yang ia sukai.
Dari
premis sederhana tersebut, cerita kemudian berkembang menjadi perjalanan yang
jauh lebih besar. Sesuatu yang awalnya dipandang sebagai akhir justru
mempertemukan Ale dengan berbagai kejadian dan orang yang membuatnya kembali
mempertanyakan arti kehidupan hingga mengurungkan niatnya untuk mengakhiri
hidup.
Menariknya,
kisah Ale tidak hanya lahir dari imajinasi Brian karena dalam proses
penulisannya, Brian mengangkat pengalaman sejumlah penyintas depresi dan
melakukan banyak wawancara untuk memahami pengalaman mereka. Ia juga
berkonsultasi dengan teman dan psikiater selama proses penulisan.
Review Isi Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Setelah
membaca novel ini secara utuh, menurut saya kekuatan utama novel ini terletak
pada cara Brian membicarakan persoalan serius yaitu kesehatan mental tanpa
membuat ceritanya terasa seperti buku motivasi yang sedang menggurui pembaca.
Ale
bukan karakter yang sempurna karena kepribadiannya banyak memiliki rasa kecewa,
marah, minder, kesepian, dan berbagai pikiran yang membuat hidup terasa semakin
berat. Justru karena itulah karakternya terasa manusiawi.
Saya
sebagai pembaca dapat melihat bagaimana pengalaman buruk yang terus menumpuk
bisa memengaruhi cara seseorang memandang dirinya dan dunia di sekitarnya.
Brian
juga tidak menyampaikan pesan seperti berceramah panjang. Ia membiarkan cerita
berjalan secara natural melalui interaksi Ale dengan orang-orang yang
ditemuinya. Bahasa yang digunakan cenderung kasual, mengalir, dan sesekali
diselipi humor dan secuplik makian.
Hal
menarik lainnya adalah simbol mie ayam dalam cerita. Makanan yang bisa kita jumpai dimana saja tersebut
tidak sekadar menjadi bagian dari cerita, tetapi perlahan berubah menjadi
simbol tentang hal-hal sederhana yang membuat hidup terasa layak untuk dijalani
dengan nikmat.
Pesan
yang muncul bukan tentang mencari alasan hidup yang selalu besar dan
spektakuler. Sebaliknya, novel ini mengajak pembaca melihat bahwa terkadang
alasan untuk melanjutkan hari bisa datang dari sesuatu yang sangat sederhana.
Dengan
ketebalan sekitar 216 halaman, novel ini juga relatif mudah diselesaikan.
Alurnya cenderung bergerak cepat dan tidak terlalu bertele-tele sehingga cocok
bagi pembaca yang ingin menikmati novel reflektif tetapi tidak terlalu berat
secara struktur alias tidak terasa seperti novel reflektif.
Kelebihan Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
- Mengangkat
Isu Terkini (Kesehatan Mental)= Kesehatan mental,
kesepian, penerimaan diri, dan tekanan kehidupan merupakan persoalan yang dekat
dengan banyak orang. Brian berhasil memasukkan isu tersebut ke dalam cerita
tanpa menjadikannya sekadar tempelan.
- Gaya
Bahasa Mudah Dipahami= Meski membicarakan persoalan yang
cukup serius, narasinya tetap terasa seperti seseorang yang sedang bercerita
kepada kita.
- Tokohnya
Terasa Manusiawi (Relate)= Ale tidak digambarkan sebagai tokoh
yang selalu kuat dan bijaksana. Ia memiliki banyak kekurangan dan pergulatan
batin. Justru hal tersebut membuat karakternya terasa lebih dekat
dengan pembaca (manusiawi).
- Punya
Banyak Bahan untuk direnungkan= Novel ini tidak hanya
menawarkan cerita, tetapi juga mengajak pembaca memikirkan kembali bagaimana
kita memperlakukan diri sendiri dan orang lain.
Saya sendiri juga suka dengan elemen Seporsi Mie Ayam, seolah seperti mengatakan bahwa sesuatu yang dianggap sangat biasa dapat memiliki makna besar ketika ditempatkan dalam situasi yang tepat.
Popularitas
novel ini juga tak main-main karena sejak diterbitkan pada Februari 2025,
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati telah mencapai cetakan ke-100 pada Mei 2026 dan
dilaporkan telah terjual kurang lebih mencapai 250 ribu eksemplar.
Kekurangan Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
- Emosional
dan Berpotensi Triggering Trauma= Cerita tokoh Ale dalam
novel ini dapat menjadi pemicu trauma (membangkitkan kembali kenangan buruk
atau menimbulkan reaksi secara psikologis) bagi pembaca yang memiliki atau
pernah memiliki pengalaman serupa. Maka dari itu, diharapkan kebijaksanaan pembaca
dalam memahami cerita.
- Terdapat
Penggunaan Diksi yang Kasar= Terdapat beberapa gaya
bahasa yang kontras seperti penggunaan kata kasar dan makian pada beberapa
karakter tokoh, sehingga tidak cocok untuk anak di bawah 17 tahun kadang terasa
dipaksakan.
- Penting
untuk diingat, karena berkaitan dengan kesehatan mental
dan keputusasaan, novel ini mungkin terasa emosional bagi sebagian pembaca.
Sehingga dibutuhkan lebih banyak kehati-hatian. Baca buku ini sebagai karya
fiksi reflektif, bukan sebagai panduan untuk menangani persoalan terkait
kesehatan mental dan keputusasaan.
Kenapa Harus Membaca Novel Ini?
- Karena ceritanya sedikit banyak menawarkan sekaligus mengajak pembaca berhenti sejenak untuk melihat kembali hal-hal kecil nan berharga yang sering dilewatkan begitu saja.
- Karena novel ini cocok untuk Anda yang menyukai novel dengan tema kehidupan, kesehatan mental, dan penerimaan diri.
- Karena alur ceritanya juga ada mengangkat realitas hidup kelas pekerja yang jujur dan apa adanya, membuat pembaca lebih menghargai perjuangan hidup orang lain di sekitar mereka (meningkatkan empati).
Secara keseluruhan, menurut saya Brian seperti ingin mengingatkan kita sebagai pembaca bahwa hidup tidak selalu harus memiliki alasan yang besar untuk terus dijalani.
Terkadang, alasan itu bisa sesederhana sebuah percakapan atau pertemuan dengan
seseorang, mengingat kenangan manis atau bahkan sekedar menikmati seporsi mie
ayam yang belum sempat dinikmati.
Yuk
mulai belajar dan membiasakan diri untuk memandang hal-hal sederhana di sekitar
kita dengan cara yang sedikit berbeda.
- Judul: Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
- Penulis: Brian Khrisna
- Penerbit: Grasindo
- Tahun terbit: 2025
- Tebal: sekitar 216 halaman
- Genre: Fiksi kontemporer, drama dan reflektif
- ISBN: 978-602-05-3132-8
- Harga: Rp74.000 hingga Rp99.000
- UNTUK 17 TAHUN KEATAS








Posting Komentar