4 Hal yang Membuat Aku Malas Berwisata ke Istana Maimun
Beberapa waktu lalu aku sempat kembali berkunjung ke Istana Maimun di Kota Medan. Jujur saja, ekspektasiku sebenarnya cukup saja mengingat tahun sebelumnya berkunjung, buatku cukup mengecewakan.
Tapi bagaimanapun, Istana Maimun adalah salah satu
ikon wisata paling terkenal di Medan dan sering direkomendasikan untuk
wisatawan luar daerah. Kebetulan temanku dari Aceh sedang berkunjung dan ingin
melihat langsung istana peninggalan Kesultanan Deli tersebut.
4 Hal yang Membuat Aku Malas Berwisata ke Istana Maimun
Dari luar, bangunan
istana memang masih terlihat megah dengan warna kuning khas Melayu Deli yang
ikonik. Tapi setelah berkeliling, yaa begitu ada beberapa hal yang justru
membuat pengalaman wisataku terasa kurang nyaman. Bahkan rasanya aku merasa
agak malas untuk datang lagi dalam waktu dekat.
1. Bangunan Istana Terlihat Kurang Terawat
Hal pertama yang langsung
terasa adalah kondisi bangunannya yang menurutku kurang terawat. Beberapa
bagian terlihat kusam dan tidak seindah yang sering muncul di foto-foto promosi
wisata.
Padahal detail arsitektur
Istana Maimun sebenarnya cantik banget. Sayangnya ada banyak sudut bangunan yang
terlihat seperti kurang mendapat perawatan. Sebagai tempat wisata sejarah yang
cukup terkenal, aku berharap suasananya bisa lebih rapi dan terjaga.
Apalagi banyak wisatawan
datang ke sini untuk menikmati nuansa heritage dan berburu foto. Kalau kondisi
bangunannya lebih terawat, menurutku pengalaman berwisata pasti jauh lebih
menyenangkan.
2. Terlalu Banyak Pedagang di Dalam Area Istana
Sebenarnya banyak banget
yang mengeluhkan ini, aku sendiri gak kaget karena di area dalam lingkungan
istana banyak sekali pedagang. Mulai dari penjual suvenir, makanan, sampai
penyewaan pakaian adat. Cuman yang bikin kesal adalah kenapa gak ada perubahan
sama sekali.
Sebenarnya aku tidak masalah dengan pedagang, karena itu juga bagian dari aktivitas wisata. Tapi jumlahnya menurutku terlalu banyak sampai suasana istana jadi terasa semrawut. Di beberapa titik, aku malah merasa seperti sedang berada di pasar dibanding tempat bersejarah.
Rasanya agak sulit menikmati suasana istana dengan tenang
karena hampir di setiap sisi ada yang menawarkan dagangan (walaupun pedagang
tersenyum ramah) rasanya tetap tidak nyaman.
3. Halaman Istana Becek dan Banyak Genangan Air
Waktu aku datang, kondisi
halaman istana juga cukup becek. Ada banyak genangan air di beberapa bagian
sehingga aku sebagai pengunjung harus memilih jalan dengan pelan dan hati-hati agar sepatu tidak kotor (aku saranin jangan pakai heels atau sepatu kets putih kesini).
Ini cukup mengganggu, apalagi kalau datang sambil ingin santai atau foto-foto. Beberapa spot jadi kurang nyaman dipakai karena tanahnya lembek dan licin.
Menurutku area halaman
sebenarnya punya potensi bagus untuk jadi ruang terbuka yang cantik. Tapi kalau
kondisi drainasenya masih seperti itu, kesan wisatanya jadi gak nyaman sama sekali.
4. Suasana Wisata Terasa Kurang Tertata
Hal terakhir yang cukup
membuatku kurang menikmati kunjungan adalah suasana keseluruhan area wisata
yang terasa kurang tertata. Mulai dari parkiran, area masuk, sampai penempatan
beberapa fasilitas seperti tempat sampah (yang sebenarnya krusial) terlihat
seperti berjalan seadanya.
Sebagai ikon wisata Kota
Medan, aku pribadi berharap Istana Maimun bisa memberikan pengalaman wisata yang lebih
rapi dan nyaman untuk pengunjung. Karena sebenarnya tempat ini punya nilai
sejarah dan budaya yang besar banget.
Sayang sekali kalau
wisatawan datang dengan ekspektasi tinggi, tapi pulang dengan kesan yang biasa
saja, bahkan cenderung kecewa.
Meski begitu, aku tetap
merasa Istana Maimun adalah tempat yang wajib dikunjungi setidaknya sekali,
terutama buat wisatawan luar daerah. Bangunannya masih punya daya tarik khas
dan sejarah Kesultanan Deli yang menarik untuk dipelajari.
Aku berharap sekali lagi ke depannya
kawasan wisata ini bisa lebih diperhatikan, baik dari segi perawatan bangunan
maupun kenyamanan pengunjung. Karena kalau ditata lebih serius, Istana Maimun
sebenarnya bisa jadi destinasi heritage yang jauh lebih menarik dan membanggakan
untuk Kota Medan.
Informasi Pengunjung
- Lokasi: Jalan Brigjen Katamso, Kelurahan Aur/Sukaraja, Medan.
- Jam Operasional: Buka setiap hari, biasanya jam 08.00-17.00 WIB.
- Tiket Masuk: Sangat terjangkau, sekitar Rp 10.000 untuk dewasa dan Rp 5.000 untuk anak-anak.







Posting Komentar