Review Novel Twivortiare Karya Ika Natassa: Ketika Cinta dan Pernikahan Diuji untuk Kedua Kalinya
Mencintai seseorang ternyata tidak selalu berarti mudah untuk hidup bersamanya. Pernahkah kamu mencintai seseorang begitu dalam, tetapi justru orang yang sama menjadi sumber kebahagiaan sekaligus luka dalam hidupmu?
Perasaan yang bertolak
belakang inilah yang membuat hubungan manusia begitu rumit, terutama ketika
cinta sudah dibawa ke dalam pernikahan.
Melalui novel Twivortiare, Ika Natassa akan mengajak kita sebagai pembaca untuk menyelami dinamika hubungan Alexandra dan Beno, dua orang yang saling mencintai, tetapi harus menghadapi ego, perbedaan karakter, kesalahpahaman, dan berbagai konflik dalam kehidupan bersama.
Menemukan seseorang yang bisa membuatmu tertawa itu mudah, tapi tidak mudah menemukan seseorang yang bisa menemanimu dalam kesedihan. — Ika Natassa —
Novel
romantis Indonesia ini tidak hanya menyuguhkan kisah cinta, tetapi juga
mengajak kita memahami berulang kali arti komitmen, komunikasi, dan perjuangan
mempertahankan hubungan.
Lantas,
apa yang membuat Twivortiare worth it untuk dibaca? Berikut review lengkap
novel karya Ika Natassa, mulai dari profil penulis, sinopsis, ulasan isi
cerita, kelebihan, kekurangan, hingga alasan mengapa novel ini layak, bahkan
sangat layak untuk masuk daftar bacaan kamu.
Siapa Itu Ika Natassa?
Sebelum membahas isi novelnya, tentu menarik untuk mengenal siapa sebenarnya Ika Natassa bukan? Ika Natassa adalah penulis novel Indonesia yang dikenal melalui karya-karya bergenre romance dan kehidupan urban.
Ia memiliki latar belakang
sebagai seorang bankir, dengan minat pada dunia menulis dan fotografi. Beberapa
karyanya yang terkenal antara lain A Very Yuppy Wedding, Divortiare, Antologi
Rasa, Twivortiare, dan Critical Eleven.
Karya-karya Ika Natassa sering menghadirkan tokoh dengan kehidupan profesional yang sibuk, lingkungan sosial perkotaan, serta persoalan hubungan yang tidak sesederhana kelihatannya.
Ika juga dikenal dengan gaya penulisan yang modern, dialog yang
lincah dan menawan serta penggunaan bahasa sehari-hari yang terasa familiar dan
related bagi mayoritas pembacanya.
Salah
satu hal yang membuat Ika Natassa istimewa adalah keberaniannya bereksperimen
dengan cara bercerita. Twivortiare dan Twivortiare 2 dikenal sebagai novel yang
ditulis dengan memanfaatkan format percakapan dan unggahan Twitter. Cara ini
ternyata berhasil memberikan pengalaman membaca yang berbeda dari novel dengan
narasi konvensional.
Sinopsis Novel Twivortiare
Twivortiare
menceritakan kehidupan Alexandra Rhea, seorang bankir yang cerdas, mandiri,
sibuk, dan memiliki kepribadian yang kuat. Ia menikah dengan Beno Wicaksono,
seorang dokter yang juga memiliki kesibukan dan tanggung jawab profesionalnya
sendiri.
Sekilas,
Alexandra dan Beno tampak seperti pasangan yang memiliki kehidupan mapan.
Mereka memiliki karier, lingkungan sosial, dan kehidupan yang mungkin terlihat
ideal dari luar. Namun, di balik semua itu, hubungan mereka menyimpan berbagai
persoalan yang tidak selalu mudah untuk diselesaikan maupun dianggap selesai
begitu saja.
Alexandra
dan Beno bukan pasangan yang bebas dari konflik, terlihat dari perbedaan
karakter, kesibukan pekerjaan, ego, dan cara menghadapi masalah membuat
hubungan mereka mengalami pasang surut. Ada cinta yang begitu kuat, tetapi ada
pula rasa kesal, kecewa, dan luka yang muncul ketika keduanya tidak mampu
memahami satu sama lain.
Melalui
akun twitter @alexandrarheaw, pembaca diajak mengikuti pemikiran Alexandra
mengenai kehidupan sehari-hari, termasuk dinamika hubungannya dengan Beno.
Unggahan, percakapan, mention, dan pesan pribadi menjadi bagian penting dalam
menyampaikan cerita.
Pertanyaan
utama yang mengiringi perjalanan mereka adalah mungkinkah seseorang mencintai
sekaligus membenci orang yang sama? Bagaimana jika orang yang paling kita
cintai justru menjadi orang yang paling mampu membuat kita terluka?
Pertanyaan-pertanyaan
itulah yang membuat Twivortiare bukan hanya sangat manis nan romantis,
melainkan juga menghadirkan cerita tentang kompleksitas hubungan manusia.
Review Novel Twivortiare: Ketika Cinta Tidak Selalu Sesederhana Jatuh Cinta
1.
Pernikahan yang Tidak Selalu Manis
Menurut
saya, kekuatan utama Twivortiare terletak pada keberaniannya dalam
memperlihatkan bahwa pernikahan tidak otomatis membuat dua orang langsung atau
selalu memahami satu sama lain. Cinta memang bisa menjadi alasan seseorang
memilih untuk bersama, tetapi cinta saja tidak selalu cukup untuk menyelesaikan
setiap persoalan yang muncul.
Alexandra
dan Beno memperlihatkan bahwa dua orang yang saling mencintai tetap bisa
bertengkar, merasa tidak dimengerti, dan mengambil keputusan yang menyakiti
pasangannya. Novel ini mengingatkan bahwa hubungan yang sehat bukan hubungan
yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan hubungan yang memberi ruang bagi
kedua orang di dalamnya untuk menghadapi masalah tersebut.
2.
Alexandra, Perempuan Mandiri dengan Segala Kerumitannya
Menurut
saya Alexandra menjadi salah satu daya tarik terbesar dalam novel ini. Ia bukan
tokoh perempuan yang selalu tenang, sabar, dan mampu mengambil keputusan dengan
sempurna. Ia bisa bersikap spontan, keras kepala, sarkastis, bahkan
menyebalkan.
Alexandra menarik karena ia memperlihatkan bahwa seseorang bisa terlihat
kuat dan mandiri dalam kehidupan profesional, tetapi tetap mengalami
kebingungan ketika berhadapan dengan perasaan sendiri. Kemampuan mengelola
pekerjaan tidak otomatis membuat seseorang mahir mengelola hubungan sosial
maupun pribadi. Ia tetap membutuhkan ruang untuk kasih sayang, perhatian, dan
kepastian, meskipun terbiasa menyelesaikan masalahnya sendiri.
3. Gaya Penulisan yang Modern dan Menghibur
Salah
satu ciri khas Twivortiare adalah format penceritaannya yang memanfaatkan twitter, mention, dan direct message. Alih-alih mengandalkan narasi panjang
pada setiap bagian, Ika Natassa membangun cerita melalui potongan interaksi dan
pemikiran para tokohnya.
Format ini membuat ritme membaca terasa cepat, bahasanya juga cenderung santai, jenaka, dan terkadang tajam. Humor dan komentar spontan Alexandra memberikan warna tersendiri, bahkan ketika cerita membahas persoalan emosional.
Kelebihan Novel Twivortiare Karya Ika Natassa
- Mengangkat persoalan pernikahan secara realistis= Novel ini tidak hanya menjual romantisme, tetapi juga memperlihatkan konflik, ego, dan kesalahpahaman yang bisa muncul dalam hubungan. Kita sebagai pembaca akan diajak melihat bahwa mempertahankan pernikahan membutuhkan lebih dari sekadar perasaan cinta.
- Karakter yang terasa manusiawi= Alexandra dan Beno memiliki kekurangan, kebiasaan, serta cara berpikir masing-masing. Keduanya bisa salah dan tidak selalu mengambil keputusan yang tepat. Bagi saya, karakter seperti ini justru membuat cerita terasa lebih hidup karena pembaca bisa memahami sekaligus mengkritik tindakan mereka.
- Gaya bahasa yang ringan dan Jenaka= Ika Natassa mampu memadukan humor, sarkasme, dan persoalan emosional tanpa membuat keseluruhan cerita terasa terlalu berat. Gaya ini membuat novel relatif nyaman dibaca ketika ingin menikmati cerita yang menghibur sekaligus mengajak berpikir.
- Format cerita yang unik= tentu saja penggunaan unggahan Twitter menjadi pembeda utama novel ini. Format tersebut memberikan kesan spontan sekaligus membuat pembaca merasa dekat bak berteman dengan kehidupan tokoh-tokohnya.
- Menghadirkan bahan refleksi tentang hubungan= Twivortiare membuat pembaca mempertanyakan banyak hal tentang cinta, komitmen, ego, dan komunikasi. Novel ini tidak harus memberikan jawaban yang sama bagi setiap orang, tetapi mampu membuka ruang untuk melihat hubungan dari sudut pandang yang berbeda.
Kekurangan Novel Twivortiare
- Format percakapan bisa terasa melelahkan= Pembaca yang terbiasa dengan novel berisi narasi panjang dan deskripsi mendalam mungkin membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Cerita yang disampaikan melalui potongan unggahan dan percakapan memiliki ritme berbeda dari novel konvensional.
- Gaya bahasa yang sangat kasual tidak cocok untuk semua orang= adakalanya penggunaan bahasa sehari-hari, istilah populer, dan komentar sarkastis merupakan bagian dari karakter novel ini. Namun, bagi pembaca yang menyukai bahasa sastra yang lebih puitis atau formal, gaya tersebut mungkin terasa kurang memuaskan.
- Dinamika tarik-ulur antara Alexandra dan Beno= menjadi bagian penting cerita. Akan tetapi, pembaca yang menginginkan perkembangan konflik yang cepat dan penyelesaian yang tegas mungkin bisa merasa beberapa persoalan hubungan mereka terlalu berputar-putar.
- Pembaca mungkin memiliki penilaian berbeda terhadap tokohnya= Sifat Alexandra yang spontan dan keras kepala bisa terasa menghibur bagi sebagian orang, tetapi menjengkelkan bagi pembaca lain. Hal serupa berlaku untuk Beno dan keputusan-keputusan yang diambilnya. Karena itu, pengalaman membaca novel ini sangat bergantung pada cara pembaca menilai karakter dan hubungan mereka.
Lantas Mengapa Harus Membaca Novel Twivortiare Minimal Sekali Seumur Hidup?
Apakah
Twivortiare benar-benar harus dibaca setiap orang minimal sekali seumur hidup?
Tentu saja tidak ada novel yang wajib dibaca semua orang. Namun, menurut saya,
ada beberapa alasan mengapa buku ini layak mendapatkan kesempatan minimal
dibaca sekali seumur hidup.
Pertama,
untuk memahami bahwa cinta bisa saja tidak selalu berjalan sesuai harapan. Kita
sering membayangkan hubungan ideal sebagai hubungan yang dipenuhi perhatian
romantis dan kebahagiaan yang berbunga-bunga. Novel ini mengingatkan kita bahwa
hubungan nyata juga melibatkan perbedaan, ketidaknyamanan, dan proses belajar
yang tidak selalu menyenangkan.
Kedua,
untuk melihat bahwa komunikasi memiliki peran penting dalam sebuah hubungan.
Ada kalanya perasaan cinta tidak selalu tersampaikan dengan baik, seseorang
bisa saja merasa sudah memberikan perhatian, sementara pasangannya justru
merasa diabaikan. Kisah Alexandra dan Beno mengajak pembaca melihat pentingnya
memahami kebutuhan satu sama lain, bukan hanya berasumsi.
Ketiga,
untuk mengenali sisi diri sendiri melalui karakter fiksi. Ketika membaca novel,
kita mungkin menemukan sifat Alexandra yang terasa familiar atau memahami sudut
pandang Beno dalam situasi tertentu. Itu bisa menjadi kesempatan untuk
mengevaluasi cara kita menghadapi konflik dan memperlakukan orang lain.
Kesimpulannya,
menurut saya, Twivortiare karya Ika Natassa layak dibaca, terutama bagi kamu
yang menyukai novel romantis dengan karakter kuat, dialog agak sarkas dan konflik hubungan yang tidak selalu hitam putih.
Ketidaksempurnaan
Alexandra dan Beno memperlihatkan bahwa mencintai seseorang tidak otomatis
membuat kita memahami orang tersebut. Ada ego yang harus dihadapi, komunikasi
yang perlu diperbaiki, dan ekspektasi yang terkadang harus dipertanyakan
kembali.
Novel ini juga sudah diadaptasi menjadi film dengan judul serupa pada 2019 lalu. Pemeran utamanya adalah Reza Rahadian dan Raihaanun. Jika kamu terlewat menyaksikan filmnya, kamu dapat menyaksikan kembali chemistry apik kedunya melalui platform streaming seperti Netflix.
Informasi Novel
-
Judul: Twivortiare
-
Penulis: Ika Natassa
-
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
-
Tahun Terbit Pertama: 2012
-
Genre: Romance/Fiksi Indonesia
-
ISBN: 978-979-22-8674-8
-
Tebal: sekitar 360 halaman (bergantung pada edisi)
-
Harga: Rp86.400 – Rp108.000
BACA JUGA: REKOMENDASI JURUSAN UNTUK PECINTA BUKU







Posting Komentar