Sebagai Content Writer, Aku Baru Sadar Mata Sepet Bisa Mengacaukan Deadline!
![]() |
| generate with chat gpt image |
"Artikel
ini bisa tayang hari ini, kan?"
Notifikasi
dari atasanku muncul tepat ketika aku sedang menatap paragraf yang sama entah untuk
yang ke berapa kalinya.
Lalu
kubalas singkat.
"Bisa
bapak, sebentar sekitar 15 menit lagi."
Padahal
kenyataannya? Aku bahkan belum berhasil menulis paragraf penutup. Ironisnya,
aku bukan sedang kehilangan ide, aku sulit fokus karena mataku kering, terasa
tak nyaman.
Kalau dipikir-pikir, hidup seorang content writer memang banyak dihabiskan di depan layar. Pagi membuka google docs, siang berpindah ke dashboard website, sore mengecek performa artikel, lalu malam harinya kadang masih membalas jika ada revisi yang masuk.
Rutinitasku
juga hampir selalu sama dari hari ke hari, dimulai dari datang ke kantor,
menyalakan laptop, membeli es kopi favorit, membuka belasan tab browser
sekaligus, lalu tenggelam dalam dunia menulis.
Hari
ini pun sama tidak ada yang berbeda karena aku sedang mengerjakan artikel SEO
yang harus selesai sebelum pukul tiga sore. Target harianku sebenarnya
sederhana. Artikel selesai, meeting terlewati dengan lancar, lanjut mengerjakan
outline naskah tulisan untuk hari berikutnya lalu pulang.
![]() |
| generate with chat gpt image |
Semuanya
terasa berjalan sesuai rencana sampai aku berkedip berulang kali karena entah
kenapa kedua mata ini terasa sedikit sepet dan agak kering. Awalnya aku tidak
terlalu menghiraukan karena mengira "oh mungkin ini efek dinginnya AC kantor".
Apalagi
semalam aku juga kurang tidur karena harus menuntaskan drama korea yang
dibintangi aktor favoritku, jadi mungkin ini cuma lelah biasa, begitulah
pikirku.
Aku
memilih lanjut mengetik hingga lima belas menit kemudian, rasa tidak nyaman itu
datang lagi. Namun kali ini bukan cuma sepet dan kering, tapi juga ada sensasi
perih yang membuatku spontan berkedip dan terdiam sejenak. Anehnya, setiap kali
melihat layar laptop, kedua mataku justru terasa semakin tak nyaman.
Aku
mencoba fokus dan tetap bekerja karena memang sudah deadline, tinggal beberapa menit
lagi. Namun semakin kupaksakan, semakin terasa ada yang tidak beres.
Aku
membaca satu kalimat, menghapusnya, menulis lagi, lalu kubaca ulang. Namun
masih terasa aneh. Lantas aku mengganti satu kata, kubaca lagi dan masih terasa
belum pas juga.
Sampai
akhirnya aku berhenti mengetik dan tertawa kecil sendiri.
"Ini
sebenarnya kalimatnya yang jelek atau mataku yang sudah capek?,” gumamku pelan.
Aku
melirik jam di pojok kanan layar.
11.42.
Berarti
sudah lebih dari tiga jam aku duduk tanpa berpaling dari layar sejak jam 08.00
pagi tadi.
Pantas
saja, yang lebih lucu lagi, selama bekerja tadi aku baru sadar, sangking
fokusnya mengejar deadline, aku seperti lupa kalau mata juga butuh istirahat.
Akhirnya
aku menyerah lalu laptop kutinggal sebentar ke luar ruangan, aku berjalan menuju
pantry, mengambil segelas air putih dingin, lalu berdiri di dekat jendela
sambil melihat ke luar ruangan. Rasanya sederhana tetapi nyaman dan
menyenangkan.
Sayangnya,
efek nyaman itu tidak bertahan lama karena usai makan siang dan kembali
bekerja, rasa sepet itu muncul lagi.
Kali
ini lebih parah karena aku mulai kesulitan mempertahankan fokus. Bukan karena
artikel yang kutulis sulit, melainkan karena mata terasa kering dan makin sepet
setiap kali menatap layar. Saat itulah aku berpikir, mungkin ini bukan sekadar
mata capek biasa.
Sepulang kerja, rasa penasaranku akhirnya menang. Lantas aku mencari tahu kenapa mataku bisa terasa tak nyaman seperti itu. Dari beberapa artikel kesehatan yang kubaca, aku baru tahu kalau terlalu lama menatap layar bisa membuat frekuensi berkedip menurun.
Akibatnya, permukaan mata menjadi lebih cepat kering dan muncullah rasa sepet, perih, atau mata cepat lelah seperti yang kurasakan tadi di kantor. Aku langsung mengangguk sendiri sambil bergumam dalam hati, “oh pantas saja”.
Yang
baru kusadari kemudian, rasa sepet, perih, dan mata lelah itu bukan sekadar
gangguan kecil yang bisa diabaikan terus-terusan. Justru di situlah masalahnya
dimulai karena ketika terbiasa menganggapnya “ah cuma capek biasa”, tanpa sadar aku sedang membiarkan mataku bekerja di luar batasnya.
Kondisi
ini sangat berbahaya karena bisa memicu iritasi berkepanjangan, peradangan pada
permukaan mata, hingga menurunkan kualitas penglihatan secara perlahan.
Lantas
sebagai content writer, rasanya hampir mustahil menghindari layar laptop maupun
ponsel. Pekerjaan menuntutku untuk membaca, menulis, mengedit, lalu membaca
lagi dengan teliti banyak tulisan. Dimana secara keseluruhan semuanya perlu
dilakukan selama berjam-jam di depan layar baik laptop maupun ponsel.
Artinya,
aku harus mulai beradaptasi dan sejak itu aku memutuskan untuk mengubah
beberapa kebiasaan kecil yang ku rangkum dari beberapa artikel kesehatan yang
telah kubaca.
Pertama
yang aku lakukan adalah memasang pengingat agar rutin mengalihkan pandangan
dari layar. Aku mulai menerapkan aturan 20-20-20, memperbanyak minum air putih
dan tidak lagi memaksakan diri duduk berjam-jam tanpa jeda.
Di saat yang sama, aku juga mencari referensi produk yang bisa membantu meredakan gejala mata kering dan tak nyaman ketika beraktivitas di depan layar. Dari beberapa rekomendasi yang kutemukan, aku akhirnya memutuskan untuk mencoba Insto Dry Eyes.
![]() |
| dokumentasi pribadi penulis |
Besoknya
sebelum berangkat ke kantor aku singgah ke minimarket mencari Insto Dry Eyes.
Di rak obat-obatan, pandanganku tertuju pada #InstoDryEyes dengan kemasan
berwarna biru. Dari informasi yang kubaca di kemasannya, kandungan utama Insto
Dry Eyes adalah hydroxypropyl methylcellulose (juga dikenal sebagai hypromellose) sebanyak 3,0 mg.
Fungsi
utamanya sebagai air mata buatan dimana zat aktif hydroxypropyl methylcellulose
bekerja dengan meniru fungsi air mata alami.
![]() |
| dokumentasi pribadi penulis |
Zat
ini membuat cairan tetes sedikit lebih kental agar dapat menempel dan
melembapkan permukaan mata lebih lama. Ia akan melumasi mata dan meredakan rasa
perih, gatal ringan, sensasi seperti berpasir atau rasa tidak nyaman akibat
kurangnya produksi air mata.
Termasuk
membantu mengatasi mata lelah dan meringankan mata kering yang timbul karena
terlalu lama menatap layar komputer/gawai atau berada di ruangan ber-AC seperti
yang sedang kualami. Harganya pun cukup terjangkau, kurang lebih sekitar
Senang
rasanya bisa menemukan solusi dari rasa tidak nyaman yang kurasakan. Aku akhirnya bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa terus-menerus terdistraksi oleh mata
yang terasa sepet. Lega rasanya karena akhirnya bisa lepas dan #BebasMataKering.
![]() |
| dokumentasi pribadi penulis |
Sekarang,
botol kecil Insto Dry Eyes selalu ada di dalam tas kerja dan satu lagi di atas meja kantor.
Bukan
sebagai "penyelamat" setiap hari, tetapi sebagai sesuatu yang siap
kupakai ketika gejala mata kering, sepet, perih hingga tak nyaman itu mulai muncul lagi karena aku sadar
Beberapa
hari setelah itu, benar saja situasi yang sama kembali terulang. Deadline
datang bersamaan, tab browser laptop kembali penuh dan atasanku kembali
mengirim pesan apalagi kalau bukan menagih tulisan yang sudah di ujung
deadline.
Bedanya,
kali ini aku tidak menunggu sampai mata sepet terasa semakin mengganggu kenyamanan
bekerja. Ketika mulai muncul rasa sepet, aku langsung menggunakan Insto Dry
Eyes sesuai petunjuk penggunaan.
Aku
mengikuti aturan pakai yang tertera pada kemasan, yaitu meneteskan Insto dry eyes 1–2 tetes pada setiap mata, 3 kali sehari atau sesuai anjuran dokter.
Setelah
mata terasa lebih nyaman, aku kembali melanjutkan pekerjaanku dengan lebih
fokus tanpa terus-menerus terganggu oleh rasa tidak nyaman di mata.
Dari
kejadian ini aku sadar bahwa sebagai content writer, aset terpentingku ternyata
bukan cuma laptop, bukan cuma jaringan internet yang kencang bahkan bukan secangkir
kopi yang selalu menemaniku setiap pagi.
Melainkan
sepasang mata yang sehat dan nyaman beraktivitas karena semua ide, revisi,
riset, dan tulisan yang kukerjakan setiap hari berawal dari sepasang mata yang sehat.
Sekarang
aku paham, mengejar deadline memang penting, tetapi menjaga kesehatan mata jauh
lebih penting. Sebagai content writer,
aku mungkin tidak bisa mengurangi waktu di depan layar, tetapi aku bisa lebih
bijak dalam merawat mata. Memberi jeda, tidak memaksakan diri, dan sigap saat
gejala mata kering mulai muncul adalah cara sederhana yang ternyata membawa perubahan besar
buatku.
Sekarang
aku masih sering membuka belasan tab browser sekaligus, masih sering dikejar
deadline. Masih sering berkata, "Sebentar lagi selesai pak,".
Bedanya,
aku tidak lagi melakukannya sembari menahan rasa sepet, perih, kering hingga lelah
di kedua mataku.
![]() |
| generate with chat gpt image |
Aku memberi jeda ketika kedua mataku membutuhkannya, menjaga tubuh tetap
terhidrasi, lebih peka ketika mata mulai terasa tak nyaman dan segera menggunakan
Insto Dry Eyes agar aktivitasku di depan layar tak terganggu.
Sebab
dengan menjaga mata tetap nyaman justru membuatku bisa menikmati proses
menulis, berpikir lebih jernih, dan menyelesaikan setiap deadline dengan lebih
fokus. Deadline memang harus dikejar, tapi menjaga kesehatan mata tidak bisa
ditawar.






Posting Komentar