5 Hal yang Haram Dilakukan di Toko Buku (Wajib Dihindari!)

Table of Contents

Toko buku adalah tempat yang identik dengan ilmu, ketenangan dan suasana nyaman untuk mencari bacaan favorit. Baik itu toko buku besar di pusat perbelanjaan maupun toko buku kecil independent di cafe, semuanya memiliki aturan tidak tertulis yang sebaiknya kita hormati. Sayangnya, masih ada saja perilaku tidak pantas yang sering dilakukan pengunjung.

Lantas apa saja perilaku kurang menyenangkan tersebut? Lewat artikel ini, kita akan membahas 5 hal yang haram dilakukan di toko buku, dalam arti tidak pantas dan tidak etis untuk dilakukan. Jika Anda ingin menjadi pengunjung yang bijak dan berkelas, yuk simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

1. Membaca Buku Terlalu Lama Tanpa Membeli

Salah satu kebiasaan yang sering terlihat dan dianggap biasa saja adalah membaca buku dari awal sampai hampir selesai tanpa ada niat untuk membeli. Banyak orang menganggap toko buku sebagai “perpustakaan gratis”, padahal keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

Toko buku adalah tempat usaha karena mereka menjual buku untuk mendapatkan keuntungan. Jika terlalu banyak orang membaca habis buku tanpa membeli, tentu hal ini merugikan pihak toko.

Lantas mengapa ini dikatakan tidak etis? Pertama buku bisa menjadi kusut atau rusak karena terlalu sering dibuka, tentu saja ini akan mengurangi nilai jual buku. Jika buku kusut atau rusak dapat dipastikan akan menghambat calon pembeli lain yang ingin melihat buku tersebut.

Jika Anda ingin membaca lama tanpa membeli, lebih baik kunjungi perpustakaan umum. Toko buku seperti Gramedia misalnya, memang menyediakan beberapa area baca, tetapi tetap mengutamakan pembelian sebagai tujuan utama. Sebaiknya bacalah secukupnya untuk melihat isi dan kualitas buku, lalu putuskan untuk membeli atau tidak.

2. Merusak atau Melipat Buku

Melipat halaman (dog-ear), mencoret-coret atau bahkan merobek plastik segel buku adalah tindakan yang sangat tidak sopan. Buku yang sudah rusak tentu akan sulit terjual dan bagi pecinta buku, tindakan ini dianggap “dosa besar”. Buku adalah sumber ilmu dan seharusnya diperlakukan dengan hormat.

Dampak perilaku ini jika dibiarkan akan merugikan toko secara finansial, mengurangi estetika buku di rak dan mengecewakan calon pembeli lain. Bayangkan jika Anda ingin membeli novel terbaru karya penulis favorit, namun ternyata sudut-sudutnya sudah terlipat dan halamannya kusam. Tentu rasanya tidak menyenangkan, bukan? Jadilah mereka tidak jadi beli bukunya jadi jangan membuka segel atau plastic pembungkus buku tanpa izin petugas.

3. Menyembunyikan Buku agar Tidak Dibeli Orang Lain

Percaya atau tidak, ada pengunjung yang sengaja menyembunyikan buku incaran di rak lain supaya tidak dibeli orang lain, lalu kembali lagi di kemudian hari untuk membelinya. Perilaku ini jelas tidak sportif dan merugikan toko, mengingat sistem inventaris bisa terganggu karena buku tidak berada di tempat yang semestinya.

Selain itu, prilaku ini juga akan mengganggu kerapian dan sistem rak, membuat staf kesulitan mencari ataupun mendata jumlah stok dan tentu saja menghambat pembeli lain menemukan buku tersebut.

Jika Anda khawatir kehabisan stok, sebaiknya tanyakan langsung kepada petugas. Biasanya toko buku besar seperti Gramedia atau Periplus menyediakan layanan pemesanan atau pengecekan stok. Kamu juga bisa menggunakan layanan reservasi jika memang benar-benar menginginkannya namun beli memiliki uang yang cukup di hari tersebut.

4. Makan dan Minum Sembarangan di Area Buku

Tumpahan kopi, remah makanan atau noda saus jelas sekali adalah musuh utama buku. Sekali terkena cairan, buku hampir pasti akan rusak permanen, meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan dan membuat tampilan buku jadi kelihatan jelek.

Beberapa toko buku memang menyediakan area kafe, tetapi tetap ada batasan area makan dan area buku jadi kamu tetap perlu menjaga kebersihan dengan aturan ketat.

Selain itu, remah makanan juga berpotensi mengundang serangga kecil yang akan mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Jika kamu ingin makan atau minum, lakukan di area yang memang diperbolehkan.

5. Mengganggu Pengunjung Lain

Toko buku identik dengan suasana tenang namun lagi-lagi pasti ada saja pengunjung yang berbicara terlalu keras, bercanda berlebihan, atau bahkan membuat konten video tanpa memperhatikan sekitarnya. Perilaku ini tentu mengganggu orang lain yang ingin fokus memilih atau membaca buku. 

Selain itu ada juga bentuk gangguan lain yang sering terjadi seperti bertelepon dengan suara keras hingga membuat video dengan menampilkan wajah pengunjung lain tanpa izin. Ingat, kenyamanan adalah hak semua pengunjung dan toko buku adalah ruang publik yang harus dihormati bersama. 

Jika ingin membuat konten atau foto, sebaiknya minta izin terlebih dahulu kepada pihak manajemen atau kepada pengunjung yang berpotensi wajahnya inframe ke dalam konten kamu. Jika toko buku sering mengalami kerugian karena perilaku tidak bertanggung jawab, bisa saja mereka mengurangi fasilitas baca atau bahkan menaikkan harga untuk menutup kerugian. Sebagai masyarakat yang peduli literasi, kita seharusnya mendukung keberlangsungan toko buku, bukan justru merugikannya.

Yuk jadi pengunjung yang beretika karena ini bukanlah hal sulit untuk dilakukan, cukup diawali dengan kesadaran dan rasa hormat terhadap tempat serta orang lain. Mari kita jaga bersama agar tetap nyaman, rapi, dan bermanfaat bagi semua orang sekaligus ikut mendukung dunia literasi Indonesia agar terus berkembang.

Posting Komentar