Pengalaman ke Istana Maimun Medan, Masih Berdiri Anggun tapi Tidak Baik-Baik Saja
Belakangan
ini, kritik terhadap Istana Maimun, salah satu bangunan bersejarah di Medan semakin
sering bermunculan. Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mengikuti
perkembangannya. Namun, beberapa bulan lalu, sebuah kritik dari seorang travel vlogger
Indonesia atas nama akun @seringjalan kembali menyeret Istana Maimun ke pusat
perhatian.
Video
yang diunggah pada 9 Juni 2025 itu telah ditonton sekitar 88,8 ribu pengguna
TikTok. Dalam videonya, akun @seringjalan mengungkapkan rasa kecewa sekaligus
prihatin terhadap pengelolaan istana tersebut. Kritik itu tanpa sadar
membangkitkan ingatanku pada kunjungan terakhirku ke sana pada 23 Agustus 2024 lalu.
Entah bagaimana kondisinya sekarang, tapi saat aku menuliskan ini, aku masih ingat betul perasaan saat melangkahkan kaki ke area Istana Maimun. Perasaan itu sulit dijelaskan. Di satu sisi, ada rasa penasaran dan antusias, perasaan yang hampir selalu hadir setiap kali aku mengunjungi bangunan bersejarah.
Namun
di sisi lain, terselip kekhawatiran yang samar, seolah aku sudah bersiap
menyaksikan sesuatu yang indah tetapi rapuh. Dan benar saja, kedua perasaan itu
hadir bersamaan, saling bertabrakan sejak langkah pertama melewati gerbang
istana.
Jujur saja, meski warna cat bangunannya sudah pudar, tapi dari kejauhan Istana Maimun tetap mempesona. Warna kuning keemasannya menyala begitu cantik menurutku, di bawah terik matahari Medan saat itu, seolah menolak pudar meski usia terus berjalan.
Istana Maimun berdiri anggun, penuh wibawa, seperti bangsawan tua yang masih menjaga martabatnya. Namun semakin aku melangkah masuk ke dalam, semakin terasa bahwa keindahan itu sedang menua tanpa cukup perhatian.
Akun Tiktok @seringjalan benar, halaman istananya benar-benar kurang tertata, sudut-sudut bangunan terlihat lelah, entah mungkin saat aku datang suasana tak mendukung, ada banyak genangan air.
Seolah memberi isyarat
bahwa istana ini sedang membutuhkan uluran tangan. Bahkan untuk sekedar
menemukan tempat sampah yang layak versiku pun sulit!
Jika membaca sejarahnya, Istana Maimun bukan bangunan biasa. Ia adalah simbol kejayaan Kesultanan Deli, saksi peradaban yang tumbuh di Sumatera Utara sejak akhir abad ke-19. Warna kuning mendominasi istana ini, melambangkan kebesaran Melayu.
Ornamen lampu, kursi, meja, dan pintu adakalanya mencerminkan gaya
Eropa. Sementara lengkung atap bergaya Persia menghadirkan nuansa Timur Tengah
yang kuat. Secara visual, ini adalah harmoni yang langka dan sangat berharga.
Jangan tanya berapa biaya membangun istana ini.
Namun keindahan itu mulai terasa berbeda saat aku memasuki ruang di dalam istana. Ruang utama yang luas dengan langit-langit tinggi masih memancarkan kemegahan, pokoknya interiornya itu bagus luar biasa.
Singgasana Sultan Deli berdiri di
pusat ruangan, berlapis kain kuning dan ornamen halus yang cantik. Aku berhenti
cukup lama di depannya, membayangkan masa ketika ruangan ini menjadi pusat
kekuasaan, tempat keputusan penting diambil dan disadari atau tidak sejarah
ditulis, terbentuk disana.
Di titik itu, kekagumanku perlahan berubah menjadi kegelisahan. Cat dinding terlihat kusam, beberapa detail tak lagi utuh, dan sebagian orisinalitas memudar. Ini bukan soal bangunan tua yang wajar dimakan usia, melainkan soal perawatan yang terasa seperti setengah hati menurutku.
Nilai sejarah dan
ketinggian peradaban yang seharusnya menjadi konten utama istana ini masih ada,
tapi tak sepenuhnya ditampilkan dengan cara yang pantas.
Yang
paling mengusik perasaanku adalah rasanya seluruh ruangan istana dipenuhi
pedagang. Ruang yang seharusnya steril sebagai tempat untuk pengunjung bisa
meresapi sejarah dengan tenang justru terasa bising dan penuh distraksi.
Aku
tak sepenuhnya menyalahkan para pedagang karena mereka adalah bagian dari
denyut ekonomi lokal. Namun keberadaan mereka di dalam istana sangat
mengesalkan hatiku. Batas antara pelestarian dan komersialisasi belum
benar-benar dijaga.
Dari
luar, Istana Maimun tetap eksotis dan fotogenik, makanya wisatawan masih berdatangan
tapi semakin dekat, masuk kedalam ruangan demi ruangan, semakin jelas pula terlihat
bahwa istana ini butuh perawatan serius baik dari sisi fisik maupun
pengelolaan. Keindahan istana ini memang bertahan bahkan masih menawan tapi
juga berteriak menunggu diselamatkan.
Foto-foto keluarga kesultanan, pakaian adat, perhiasan, serta berbagai benda peninggalan Kerajaan Kesultanan Deli masih terpajang. Siapa pun tahu, benda-benda itu tak ternilai harganya.
Namun, penataan yang terkesan seadanya membuatku merasa bahwa kisah besar di baliknya belum sepenuhnya tersampaikan. Padahal, semestinya sejarah bukan sekadar deretan pajangan, melainkan narasi yang hidup. mengalir, berbicara, dan menggugah siapa pun yang menyaksikannya.
Bersamaan dengan kedatanganku hari itu, hadir pula sekelompok anak sekolah. Mereka tampak antusias bertanya kepada petugas, memotret dan mengamati berbagai peninggalan Kesultanan Deli yang dipamerkan. Namun suasana Istana Maimun justru dipenuhi aktivitas lain yang tak kalah ramai yakni para pedagang sibuk menawarkan dagangannya.
Kesal
sekali, sejarah seolah harus berbagi perhatian dengan tawar-menawar. Aku tahu
anak-anak itu datang untuk belajar mengenal bagian dari peradaban bangsanya.
Tapi dalam atmosfer seperti ini, aku tak bisa menahan tanya, kira-kira
pelajaran apa yang benar-benar akan mereka bawa pulang?
Kita terlalu sering mengabaikan hal-hal esensial di balik peninggalan sejarah. Kita bangga memilikinya, tetapi kerap lalai merawat dan memaknainya. Padahal, tanpa pengelolaan yang layak, warisan sejarah perlahan tapi pasti akan kehilangan daya didiknya dan pada akhirnya kehilangan makna seutuhnya.
Secara
struktur, Istana Maimun menghadap ke timur dan terdiri dari dua lantai dengan
tiga bagian utama yakni bangunan induk, sayap kiri, dan sayap kanan. Luasnya
mencapai 2.772 meter persegi dengan 30 ruangan. Angka-angka ini menegaskan
betapa besarnya istana ini, betapa penting perannya dalam sejarah kawasan ini.
Ironis rasanya melihat bangunan sebesar dan sepenting ini belum mendapatkan
perhatian maksimal.
Aku
ingin mengatakan satu hal, jangan hanya memandangi Istana Maimun dari luar, jangan
pula sekedar lewat saja. Singgah dan masuklah ke dalamnya, dengan tiket masuk
Rp10.000 kita bisa melihat singgasana raja dan peninggalan Kerajaan Deli yang (sebenarnya)
cantik tak ternilai. Tapi saat masuk, bersiaplah juga untuk melihat kenyataan
apa adanya.
Revitalisasi
Istana Maimun penting sesegera mungkin diterapkan, bukan sekadar soal renovasi
fisik. Tapi juga menata ulang cara kita memandang sejarah karena saat aku
melangkah keluar dan menoleh untuk terakhir kalinya, bangunan kuning itu masih
berdiri anggun, meski lelah. Aku membawa pulang lebih dari sekadar foto.
Aku
membawa rasa kagum, kekesalan dan harapan. Harapan bahwa suatu hari nanti,
Istana Maimun tak hanya indah untuk dikenang, tapi juga dirawat dengan sepenuh
hati sebagai rumah bagi sejarah yang bisa memberi tau siapapun, siapa bangsa Indonesia
sebenarnya.






















Posting Komentar